Oleh: Gede Prama
Menyusul sebuah penugasan yang tidak bisa ditolak, seorang pendeta harus bepergian ke sebuah desa pedalaman. Oleh karena rusaknya jalan, maka terpaksalah ia berdesak-desakan menggunakan angkutan kota (angkot). Di tengah jalan, angkot terakhir distop oleh seorang wanita cantik nan menawan plus bajunya yang minim baik di atas maupun di bawah. Melihat godaan di depan mata, pendeta inipun berdoa untuk pertama kalinya : 'Tuhan, jauhkanlah hamba dari segala godaan'. Kendati sudah berdoa demikian, toh wanita cantik tadi duduk persis di sebelah pendeta.
Begitu ada lobang jalan yang diabaikan supir angkot, berguncanglah kendaraan. Sebagai akibatnya, bagian sensitif wanita cantik tadi menyentuh tubuh Bapa pendeta. Kali ini ia berdoa untuk kedua kalinya : 'Tuhan, kuatkanlah iman hambamu'. Tikungan berikutnya, ada polisi tidur yang tidak dilihat supir angkot, sehingga meloncatlah kendaraan. Kali ini wanita cantik tadi berteriak ketakutan sambil memeluk pendeta : 'Bapa Pendeta toloong !'. Untuk ketiga kalinya, sahabat pendeta tadi berdoa : 'Tuhan, terjadilah apa yang seharusnya terjadi !'.
Silahkan Anda berespon terhadap lelucon ini. Mau tertawa, tersenyum, mengerutkan dahi, asal jangan tersinggung karena ini hanyalah bunganya canda. Terlepas apapun respons Anda, nafsu dan keserakahan di manapun berperilaku serupa. Di mana hawa nafsu bercampur rapi dengan keserakahan, di sanalah kejernihan itu lenyap. Jangankan kejernihan orang biasa, doa pendetapun bisa berubah begitu ia diperkosa oleh hawa nafsu.
Satu bingkai dengan cerita pendeta di atas, Indonesia sebagai sebuah kolam sangat mungkin sedang kehilangan kejernihan. Masih jauhnya tanda-tanda keluar dari krisis, ditambah dengan kisruhnya pemecahan demikian banyaknya persoalan publik, apa lagi diikuti oleh barisan kecurigaan di sana-sini, maka lengkaplah wajah kolam Indonesia sebagai kolam kekisruhan.
Sebagaimana kolam yang sebenarnya, di mana wajah kolam yang kisruh menghalangi penglihatan yang jernih tentang apa yang ada di kedalaman kolam, demikian juga dengan kolam Indonesia. Setiap kali sebuah persoalan muncul ke permukaan, hampir setiap kali itu juga kita berdebat tanpa ujung pangkal. Semakin lama debat dilakukan, bukannya semakin terbuka pintu kejernihan, malah sebaliknya, semakin pintu kejernihan ditutup rapat-rapat oleh rangkaian wacana di banyak media.
Sebutlah kasus PKPS yang berkepanjangan itu. Atau perhatikan sinyalemen dua komando dalam perekonomian sebagaimana pernah disinyalir seorang sahabat ekonom. Atau drama konflik yang melanda hampir semua partai politik besar. Atau perdebatan tentang legal tidaknya penjualan sejumlah harta negara yang menghebohkan itu. Semakin lama dan panjang perdebatan dilakukan, semakin sang penglihatan menjadi semakin rabun dalam melihat wajah persoalan. Mirip dengan ayam yang bertemu sang malam, dan kemudian penglihatannya menjadi rabun. Demikian juga dengan nasib sang negeri. Wacana bukannya membawa kita ke terangnya sinar matahari siang hari, malah menggusur kita ke sang malam yang rabun.
Dalam sejarah pengetahuan dari dulu hingga sekarang, kebanyakan wacana adalah pergeserar sang hari dari malam ke siang. Gerakan sebaliknya terjadi, hanya ketika kita manusia sudah demikian terbungkus oleh nafsu dan keserakahan. Sehingga bisa dimaklumi, kalau ada banyak sahabat sudah dihinggapi keengganan yang amat tinggi untuk mengikuti wacana.
Membaca koran, majalah, melihat televisi, mendengarkan radio yang membawa bendera wacana bukanlah sebuah kesenggangan yang mudah menarik perhatian orang sekarang-sekarang ini. Sejumlah sahabat bahkan menyebutkan, jauh lebih menarik melihat-lihat iklan dibandingkan mengikuti wacana. Sebab, iklan adalah tanda-tanda lebih 'jujur' dari datangnya kecenderungan. Atau memperhatikan gambar-gambar tanpa suara. Di mana gambar demikian berbicara jauh lebih jujur dibandingkan kata-kata yang diproduksi lidah tidak bertulang.
Di tengah-tengah keengganan serta kemalasan seperti ini, di pinggir kolam saya suka membuka telinga kepekaan. Tidak untuk berbuat aneh dan bisa dikira gila. Tetapi hanya untuk belajar bagaiamana kolam bisa kelihatan jernih, hening dan terang. Andapun boleh mencobanya. Dan di hampir semua kolam jernih, setiap pertanyaan yang datang dari kepekaan hanya dijawab dengan silence. Seakan-akan sedang berbisik ke saya : wisdom is found in silence. Kearifan bisa ditemukan dalam hening. Inilah suara arif yang kerap dibisikkan dan dinyanyikan kolam.
Entah Anda mendengar bisikan terakhir atau tidak. Yang jelas kolam sang negeri sedang menunggu keheningan dan kejernihan. Waktunya memang akan datang. Cepat lambatnya keheningan dan kejernihan berkunjung, amat ditentukan oleh keseriusan kita untuk bersahabat dengan silence. Anda bebas untuk memilih jalur-jalur silence Anda, sebebas angin yang terbang ke sana kemari, sebebas kolam yang senantiasa diam, sebebas langit yang kadang gelap kadang terang. Apapun pilihan Anda semuanya layak dihargai.
Yang jelas, keengganan untuk mendengarkan bisikan air kolam di atas, mudah sekali membuat kita bernasib serupa dengan lelucon Pendeta di atas,. Terjebak dalam keserakahan dan hawa nafsu, ditenggelamkan kekeruhan, kemudian memanipulasi doa dengan kalimat : 'terjadilah apa yang seharusnya terjadi !'. Dan kolam sang negeripun hanya bisa diam dalam kekeruhan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment