Thursday, March 6, 2008

Aib Kepahlawanan

Oleh : M. Anis Matta, Lc

Pernahkah anda melihat orang-orang yang anda anggap hebat, berbakat potensial, tapi kemudian tidak menjadi apa-apa ? atau dengan kata lain, kehidupannya dan prestasi- prestasinya dalam hidup, tidak menunjukkan bakat dan potensi yang sebenarnya ia miliki.

Disekeliling kita banyak orang2 seperti itu, mungkin juga saya atau anda. Mereka adalah orang2 yang tidak mengetahui bahwa mereka menyimpan kehebatan yang dahsyat, atau mungkin mereka merasakannya tapi tidak berminat memunculkannya, atau mungkin berminat tapi ia kalah untuk menjadi 'orang biasa' Karena menjadi orang biasa membuat hidup lebih santai, relatif tanpa beban, tanpa sorotan, tanpa stress, tanpa depresi.

Menjadi orang biasa adalah godaan bagi pahlawan. Inilah yang membuat mata air kecemerlangan di dalam dirinya hanya keluar dan kemudian tergenang. Di manapun ada genangan air, di situ selalu ada kemungkinan pembusukan. Air itu tidak menggelombang, maka tidak ada debur kehebatan di dalam dirinya. Air itu tergenang teduh, dan dalam keteduhannya ia tersedot oleh cahaya matahari kehidupan, maka ia mongering dan habis. Atau ia terkotori oleh sampah yang terbuang dalam genangan itu, maka ia mengeruh dan kemudian membusuk.

Para pahlawan adalah sungai yang mengalir deras, atau yang menggelombang dahsyat. Semua potensi yang ada dalam dirimya keluar satu demi satu, semua kehebatan yang ada dalam dirinya menggelora ke permukaan bagaikan gelombang, semua bakat yang ada dalam dirinya bertiup kencang bagaikan badai. Ia menantang kehidupan, maka ia mengukir sejarah, sebab sejarah adalah catatan petualangan hidup. Ia mengejar dan menangkap takdirnya, maka ia mendapatkan mahkota kepahlawanan. Sebab mahkota itu tidak pernah dihadiahkan, ia diperoleh karena ia direbut. Sebagai kemerdekaan adalah yang piala yang direbut oleh bangsa-angsa terjajah, seperti itulah kepahlawanan menjadi mahkota yang dinobatkan kepada para pengejarnya.

Karena itulah kepahlawan menjadi beban yang berat bagi jiwa manusia. Karena itulah banyak yang tidak mau menempuh jalan panjang kepahlawan. Dan jika diantara mereka yang bersedia mungkin dia tidak akan bertahan lama, lalu berhenti, dan menerima hidupnya yang mungkin ala kadarnya.

Itulah mengapa pahlawan selalu sedikit. Bukan karena tidak banyak yang bisa menjadi pahlawan. Itu lebih karena orang-orang berbakat itu tidak mau dan tidak bersedia menerima syarat-syarat kepahlawanan, dan itulah yang membuat para pahlawan selalu 'menderita' karena beban hidup yang banyak ini hanya dipikul oleh sedikit orang. Hidup ini seringkali tidak tampak adil dalam pandangan ini, karena ia mendistribusi beban-bebannya secara tidak merata. Dulu, Abu Tammam, sang penyair hikmah dari tanah Arab, pernah mengatakan : "Tidak ada aib yang kutemukan dalam diri manusia, melebihi aib orang-orang yang sanggup menjadi sempurna, namun tidak menjadi sempurna"

Semoga bisa diambil hikmahnya

No comments: